Hi, guest ! welcome to Livebebetter!. | About Us | Contact | Register | Sign In

Jumat, 11 Juli 2014

Renungan tentang World Cup by Jedi Gen CCC



World Cup 2014 di Brasil akan berakhir dalam beberapa hari lagi. Banyak penggemar olah raga sepak bola menantikannya.  Diantara mereka bahkan sudah mengidolakan salah satu tim Negara yang berkompetisi dalam ajang tersebut.  Namun kali kita tidak akan membahas mengenai World Cup 2014 tetapi kita akan merenungkan dan mengambil pelajaran dari sebuah permainan sepak bola.  Karena, ternyata melalui sebuah pertandingan sepak bola Tuhan dapat berbicara kepada kita.  Mari kita simak hal apa saja yang dapat menjadi perenungan kita melalui sepak bola.
Pertama.  Dalam permainan sepak bola ada gawang yang harus dituju oleh semua pemain, entah itu mempertahankan atau membobol gawang tersebut.  Demikian juga dengan hidup ini.  Setiap kita diciptakan oleh Tuhan dengan sebuah tujuan.  Pastinya tujuan tersebut adalah tujuan yang mulia dan sesuai dengan kehendakNya.  Tuhan juga menghendaki agar tujuan yang sudah tercapai dengan baik itu harus dipertahankan bahkan ditingkatkan.
Kedua.  Setiap gol yang tercipta tidak terlepas dari usaha bersama dengan teman-teman yang ada pada tim.  Meskipun ada “bintang lapangan” yang hebat dan banyak mencetak gol, tetapi jika orang tersebut tidak bekerja sama dengan timnya, maka sia-sialah usahanya.  Dalam arti yang positif, melalui hal ini kita dapat menarik pelajaran bahwa kita tidak dapat hidup dengan sendirian.  Tuhan menciptakan kita sebagai mahluk sosial yang memerlukan interaksi dengan orang lain.  Secara khusus dalam pelayanan gerejawi.  Kita adalah satu tim di dalam pelayanan.  Selain untuk beribadah dan menyembah Tuhan, tujuan utama yang harus dicapai adalah menyebarkan berita keselamatan agar banyak orang diselamatkan.  Membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan Yesus.
Ketiga.  Setiap pemain sepak bola, pasti memerlukan latihan.  Baik itu secara fisik maupun mental.  Sehingga ketika menghadapi tim “yang lebih hebat” mereka tidak kehilangan semangat dan tetap berusaha.  Dalam kehidupan rohanipun kita perlu melatih iman kita.  Agar ketika menghadapi situasi-situasi yang sulit iman kita tidak akan gugur.
Inilah beberapa hal yang dapat kita ambil hikmahnya dari sebuah permainan sepak bola.  Semoga melalui tulisan singkat ini dapat menolong teman-teman merenungkan hal-hal kecil yang Tuhan pakai untuk berbicara kepada kita.  Tuhan memberkati dan selamat menikmati tayangan World Cup 2014.

(DS2014)

Renungan tentang Kesanggupan Allah by Jedi Gen CCC



TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun.  Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!  TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi.  Mazmur 33:10-14
 
Allah dikenal sebagai Allah yang Maha Kuasa (omni potent).  Kemahakuaasan Allah dinyatakan melalui berbagai cara. Antara lain dengan Kemaha-tahuanNya, Kemaha-hadiranNya, dll.  Di dalam Kemaha-TahuanNya, Ia mengetahui apa yang manusia pikir dan rencanakan. 

Allah mengetahui rencana dibalik pembangunan menara Babel oleh orang-orang pada zaman itu. Tetapi karena rencana mereka menentang kehendak Allah. Maka Allah turun tangan dan mengacaukan bahasa mereka  (Kejadian 11:1-11).  Allah mengetahui apa yang menjadi fikiran Abraham, ketika Sodom dan Gomora akan dihancurkan.   Abraham berusaha tawar menawar dengan Allah mengenai Lot berserta keluarganya (Kejadian 18 :23-33).  Allah mengetahui sikap Musa yang kurag percaya diri, ketika Allah memerintahkannya untuk menghadap kepada Firaun (Keluaran 4:1-17).

Nah, teman-teman pasti memiliki  sebuah rencana dan angan-angan yang ada dalam fikiran teman-teman sekalian.  Bawalah setiap rencana tersebut kepada Allah kita yang Maha Kuasa itu.  Mintalah pimpinanNya, agar setiap rencana dan fikiran-fikiran kita sesuai dengan kehendakNya.

Doa
Tuhan aku mau menyerahkan setiap rencana dan fikiranku kepadaMu, agar rencana dan fikiranku sesuai dengan kehendakMu.  Sehingga setiap rencanaku dapat memuliakan NamaMu dan orang-orang disekelilingku diberkati ketika rencanaku tersebut terlaksana.  Di dalam Nama Yesus. Amin 

(DS2014)

Kamis, 23 Mei 2013

Maaf Salah Lubang Kubur

Oleh: Daniel Susanto S.Th
        Pagi itu, ketika hampir sebulan saya menjadi Staff Pastoral, seorang rekan yang cukup senior mengajak saya untuk ikut di dalam sebuah pelayanan pemakaman.  Sebenarnya saya ingin menolaknya. Tetapi, “kapan lagi?”   Pikir saya.  “Kapan saya akan belajar?”  Kemudian ikutlah saya dengan rekan tersebut.

        Dalam perjalanan, untuk mengusir kesunyian mulailah kami bercerita tentang bagaimana cara atau liturgi dari sebuah pemakaman.  Banyak hal yang kami bicarakan seputar tentang ibadah pemakaman.  Termasuk juga pengalaman yang oleh rekan-rekan senior pernah alami dulu, sewaktu ingin memakamkan seseorang.

        Ceritanya begini; ketika itu ada seorang yang menelpon ke kantor gereja memberitahukan bahwa anggota keluarganya ada yang meninggal dunia, lalu dari gereja pun mengutus beberapa orang dalam tim untuk tugas dalam ibadah penghiburan dan pemakaman.  Beberapa orang pun ditugaskan.  Ibadah penghiburan telah dilaksanakan dan dilanjutkan penutupan peti.  Saatnya tiba untuk memberangkatkan jenazah ke pemakaman.  Iring-iringan mobil jenazah dan para pengantar akhirnya tiba di lokasi pemakaman.  Peti jenazah memang belum diturunkan dari mobil, namun keluarga yang berduka sudah siap mengambil posisinya di sekeliling liang kubur. Mobil Sang Pengkhotbah belum tiba juga.    Saya kurang ingat apa yang menyebabkan rekan senior itu terlambat.  Barangkali karena kemacetan kota Jakarta,  sehingga ia terpisah dari iring-iringan rombongan keluarga yang berduka.  Keluarga dan teman-teman yang juga turut mengantar jenazah Lebih dulu tiba di lokasi pemakaman, si Pengkhotbah belum juga datang.

        Tidak lama kemudian, ada sebuah mobil dengan agak kencang mendekati sebuah kerumunan masa.  Ketika dilihat warna dan merk mobil yang melaju kencang itu, seseorang berkata ”Nah….akhirnya datang juga…!”  Benar saja, orang itu adalah si pengkhotbah yang ditunggu-tunggu. Karena merasa tidak enak, si Pengkhotbah langsung berlari ke tengah kerumunan orang banyak yang tengah menyanyikan lagu-lagu untuk mengiring melepaskan jenasah dan menghibur keluarga yang berduka.  Dia tidak berpikir panjang lagi, sambil membuka Alkitabnya untuk mencari ayat-ayat yang akan dikhotbahkan,  secepat itu pula ia menerobos kerumunan masa tersebut.

        Alangkah terkejutnya Pengkhotbah itu.  Ketika dilihatnya peti jenazah akan diturunkan ke liang kubur.  Para petugas pemakaman juga sudah bersiap-siap pada posisinya.  Dengan spontan ia pun berbicara kepada orang-orang yang ada di sana.  “Hei...  tunggu dulu, kenapa kalian tidak tunggu saya!”  Semua mata yang berlinangan air mata pun dengan tajam dan penuh tanda tanya menatapnya.  Si Pengkhotbah semakin heran, pikirnya; “pasti ada yang tidak beres....”  Kemudian seorang Pendeta pun mendatangi si Pengkhotbah dan bertanya dengan suara berat dan terdengar bijaksana; “Ada apa pak?  Mungkin rombongan bapak yang di sebelah sana....”  Dengan wajah yang memerah, si Pengkhotbah langsung menjawab Pendeta tersebut; “Maaf salah lubang kubur....” 

        Dari cerita tersebut, satu hal yang saya dapat pelajari adalah  ketergesaan menyebabkan kita kehilangan fokus.  Tidak dapat kita sangkal, bahwa waktu dalam kehidupan ini, begitu cepat bergulir.  Apalagi bagi kita yang tinggal di daerah perkotaan.  Kita selalu berlomba dengan waktu.  Kadang kita bertanya, “Mengapa waktu begitu singkat?”  “Mengapa waktu tidak dapat dikompromikan, seperti keputusan tentang eksekusi seorang teroris, yang dapat dikompromikan bahkan ditunda dan orang yang tidak bersalah pun dipercepat  untuk menghadapi eksekusi?”

Pertanyaan yang lain lagi adalah, “bagaimanakah caranya sekalipun kita di dalam ketergesaan, namun tetap dapat fokus?”  Tentunya bukan dengan banyak meminum minuman mengandung larutan isotonik.  Yah... memang ada juga manfaatnya dengan meminum minuman tersebut.  Tetapi, sebenarnya kita memerlukan kedisplinan dalam Meditasi / perenungan.  Sebab seperti yang Richard J. Foster katakan, dalam bukunya “Tertib rohani”* bahwa musuh orang-orang zaman sekarang salah satunya adalah ketergesaan.  Untuk itu, kita perlu melatih diri dalam meditasi atau perenungan.

Sebagai orang yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, kita sangat kurang dalam merenung.  Oleh karena itu, latihlah diri kita untuk merenungkan kehidupan ini.  Mengevaluasi hidup dan pribadi.  Sehingga sekalipun dalam waktu yang mendesak, dalam ketergesaan, kita tetap dapat memfokuskan diri dalam segala hal.  Apa lagi merenungkan Firman Allah, itu akan menuntun hidup kita kepada kedamaian batin dan bahkan menuntun kita menjadi berhasil. 


* Richard J. Foster, Tertib Rohani. Penerjemah: Anonimus (Malang: Gandum Mas, 2000), 27.

Rabu, 22 Mei 2013

Bukan Kejayaan Lahiriah Filipi 1:27-2:10

Oleh: Daniel Susanto S.Th
Menurut KamusBesar.com, kejayaan adalah kebesaran, kemasyuran, kemegahan.  Atau juga bias dikatakan dengan keberhasilan.
Berbicara tentang kejayaan atau keberhasilan, pasti semua orang di dunia ini akan sangat tertarik.  Contohnya; lebih banyak orang yang datang ke dalam seminar-seminar motivasi dan financial dari pada ke persekutuan doa.  Bahkan kalau seminar tersebut diadakan di hari minggu dengan biaya yang sangat mahal.  Tidak sedikit yang mendaftar untuk menjadi peserta ketimbang pergi ke gereja yang hanya memberikan kolekte sekedarnya.
Mengapa demikian? Karena mereka ingin “Berjaya” ingin berhasil, ingin sukses.
Lebih parahnya lagi, gereja-gereja yang mengajarkan doktrin tentang penyerahan hidup kepada Tuhan, menjadi saksi bagi orang-orang di sekeliling kita.  Jumlahnya cenderung sedikit  dibandingkan dengan gereja-gereja yang menganut teologi prosperity (kemakmuran).
Mengapa demikian? Karena mereka ingin “Berjaya” ingin makmur, ingin terlepas dari kesengsaraan hidup. Karena prinsip mereka berdasarkan Yohanes 10:10. “Yesus datang untung membawa hidup yang berkelimpahan.”  Ada benarnya pandangan ini, tapi tidak mewakili seluruh kebenaran Alkitab.
Misi Tuhan Yesus datang kedunia bukan semata-mata memberikan kelimpahan secara materi.  Tetapi lebih dari itu Tuhan mau memberikan kelimpahan surgawi yang kekal sifatnya.
Tidak menjadi masalah apakah kita sebagai orang percaya, memiliki mimpi untuk menjadi sukses atau Berjaya.  Panggilan kita sebagai orang percaya melebihi itu.  Ada sebuah kekekalan menanti kita.
Namun tidak sedikit pula orang-orang yang terjebak dalam keinginan untuk “Berjaya” dengan menghalalkan segala cara. Bahkan mengorbankan orang lain untuk kesenangan pribadinya.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi mengajak jemaat tersebut agar meneladani kehidupan Kristus (2:1-10).   
Mari kita renungkan perikop yang baru kita baca tadi: 
I.  Fokus pada hal-hal yang kekal (ay. 1:27-30) 
     1.  Teguh berdiri dalam iman : dalam penderitaan atau pun tidak 
II.  Berani melepaskan hak pribadi kita (2: 6-7)
1.   Ayat 3, Tidak mencari kepentingan pribadi (terjemahan NIV Do nothing out of selfish ambition…)
2.  Ayat 4, Tidak Egosentris “hanya memperhatikan kepentingannya sendiri (terjemahan NKJV not only for his own interests).
 Penutup
Akhirnya, hanya dengan ketulusanlah kita dapat memperoleh “kejayaan” rohani; ketulusan dalam mengikut Tuhan, ketulusan dalam melayani, ketulusan dalam tugas-tugas yang kita emban dll, maka kita akan sanggup berkata seperti Paulus dan jemaat Filipi…bersukacita dalam penderitaan yang Tuhan ijinkan bagi kita..itulah Kejayaan Rohani, itulah Kemegahan yang bukan Lahiriah…Amin.

Ketika Fitnah Datang, Apa yang Harus Dilakukan??? – Belajar dari Daud!


Oleh : Daniel Susanto S.Th

 9. TUHAN mengadili bangsa-bangsa. Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas.  10. Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil. 11. Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; 12. Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat. 13. Sungguh, kembali ia mengasah pedangnya, melentur busurnya dan membidik. 14. Terhadap dirinya ia mempersiapkan senjata-senjata yang mematikan, dan membuat anak panahnya menjadi menyala. 15. Sesungguhnya, orang itu hamil dengan kejahatan, ia mengandung kelaliman dan melahirkan dusta. 16. Ia membuat lobang dan menggalinya, tetapi ia sendiri jatuh ke dalam pelubang yang dibuatnya.  17. Kelaliman yang dilakukannya kembali menimpa kepalanya, dan kekerasannya turun menimpa batu kepalanya. 18. Aku hendak bersyukur kepada TUHAN karena keadilan-Nya, dan bermazmur bagi nama TUHAN, Yang Mahatinggi.
Setiap orang pasti memiliki persoalan-persoalan dan harapan semua orang adalah untuk terluput dari setiap masalah.  Namun apa yang terjadi?  Tidak ada seorangpun yang dapat luput dari masalah.  Seperti kata seorang penyair “Tuhan tidak menjanjikan selalu ada panas, atau selalu akan hujan.  Tetapi Dia menjajikan sebuah kekuatan dan hikmat untuk menghadapi itu semua.”   
Dalam bacaan kita hari ini Mzm 7:9-18. Berlatar belakang kisah Daud dan Kush, orang Benyamin.  Banyak para penafsir mengatakan sangat mungkin masalah yang dihadapi Daud adalah sama dengan apa yang terjadi di 2 Samuel  16:5-8 hujatan dan fitnahan keturunan Saul terhadap Daud (mengingat Saul berasal dari dari keturunan Benyamin).
Bagaimanakah respon Daud dalam menghadapi hal tersebut?
Saya menemukan beberapa hal yang Daud responi dalam menghadapi Fitnahan dari orang-orang yang memusuhinya.
1.  Tetap berpegang pada keyakinan Iman bahwa Tuhan yang disembahnya adalah Tuhan yang Maha Adil. (ayat. 9, 11, 12)*banyak orang yang meninggalkan Tuhan karena orang tersebut merasa bahwa masalahnya lebih besar dari pada Tuhan.  Dan mempertanyakan dimana keadilan Tuhan?  Kemudian mencari kompensasi atas masalah tersebut dengan; Mabuk, Narkoba atau melakukan kejahatan yang lebih buruk dari pelaku yang menyakitinya.
2.   Tetap merendahkan dirinya di hadapan Tuhan (ayat. 9)…hakimilah aku…dst. *Intinya instropeksi diri dan tidak merasa dirinya paling benar dari orang lain.
3.   Tetap punya kerinduan untuk memuji Tuhan (ayat. 19) dan bukan menghujat Tuhan dan bahkan meninggalkan Tuhan. *Setiap persoalan apapun itu, adalah cara Tuhan untuk memproses diri kita agar lebih menjadi dewasa baik mental dan rohani.
Mengapa Daud punya kemantapan yang demikian?
1.   Daud mengerti bahwa  perbuatan jahat seseorang adalah sia-sia. (ay. 16-17). *Ada hukum tabur - tuai yang berlaku dalam kehidupan ini. Kalau dalam bahasa motivator zaman sekarang “hukum tarik-menarik/ Law of Attractive”
2.   Daud Menyadari jika kejahatan dibalas dengan kejahatan, maka kejahatan itu akan mengikat dirinya, bahkan ia sangat berhati-hati agar jangan terjebak pada perbuatan yang lebih jahat dari orang jahat manapun. (ay. 13, 14 dan 15) Bandingkan dengan Mzm 37:1-8
Kesimpulan / penutup: 
Sebagaimana Daud dalam menghadapi orang-orang yang memusuhinya, ia tetap berpegang pada keyakinannya kepada Tuhan dan bukan mencari jalan pintas yang akhirnya menimbulkan masalah baru atau menambah keruetan masalah tersebut .  Namun Daud  tetap dapat memuji Tuhan.  (bandingkan dengan pernyataan Paulus, bersukacitalah dalam segala hal…”segala berarti dalam kondisi apapun”… tetap berpikir positif karena Tuhan kita Mahakuasa, Maha Adil tidak pernah membiarkan umatNya dia selalu menyertai kita.
Ketika Yesus di Fitnah dan di salib,  bahkan ia memberikan pengampunan kepada mereka yang melakukannya.

Sabtu, 15 September 2012

Ketika Jawaban dari Permohonan kepada Tuhan, berbeda dari yang diharapkan.

Ketika Jawaban dari Permohonan kepada Tuhan, berbeda dari yang diharapkan.
Daniel Susanto S.Th

Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan.  Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya.  Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.  Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."  Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak."  Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."  Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar. (Markus 7:24-30).

Pernahkah kita jenuh dalam doa?
Jika tidak Haleluyah Puji Tuhan!  Namun jika pernah, mengapa? Pasti ada segudang alasan pernah kita dengar bersama mengenai hal ini. 

Sebetulnya hanya ada satu alasan kenapa seseorang menjadi jenuh berdoa, yaitu tidak yakin doanya di jawab atau tidak, jika ada alasan lainnya hal itu hanyalah efek samping dari ketidak yakinan orang tersebut apakah doanya dijawab oleh Tuhan.

Marilah kita belajar dari teks Markus 7:24-30 di atas mengenai seorang wanita kebangsaan Siro-Fenisia.   Ia tidak mempedulikan jawaban apa yang akan dia dapatkan.  Namun ia mengutarakan permohonannya kepada Tuhan Yesus.  ia tidak pernah berpikir kalau jawaban yang di dapat akan berbeda dengan  apa yang diharapkannya.  Yang ia tahu adalah, permohonan kepada Tuhan harus disampaikannya.

Pertama, wanita Siro Fenisia tersebut menyadari bahwa perjumpaannya dengan Tuhan adalah sebuah hal istimewa.  Oleh karena itu waktu tersebut adalah sangat berharga dan ia memanfaatkan saat tersebut dengan mengungkapkan isi hatinya kepada Tuhan.

Elmer L. Towns  mengatakan; Jangan cemas karena doa yang belum dijawab, tetapi cemaskanlah doa yang tidak (pernah) dipanjatkan. 

Namun Justru sekalipun doa belum terjawab dan selagi waktu tersebut dianugerahkan kepada kita. Kita harus setiap saat berdoa. 
Liputan6.com, Senin 18 Juni 2012 mencatat penelitian yang dilakukan oleh bagian Kosmologi universitas Cambridge yang mengatakan bahwa waktu bisa melambat dan akhirnya berhenti sama sekali.  Merujuk kepada teori Big-Bang…jika waktu dapat muncul, itu juga berarti waktu dapat menghilang. (bandingkan dengan Efesus 5:16 /Kolose 4:5b)

Perempuan Siro-Fenisia tersebut tidak menyia-nyiakan waktunya untuk berjumpa dengan Tuhan dan menaikkan permohonan bagi kesembuhan anaknya.  Bagaimanakah dengan kita?  Apakah kita juga akan memaksimalkan waktu ditengah-tengah kesibukan kita untuk datang berjumpa dengan Tuhan dan menaikkan isi hati kita kepadaNya?


Kedua, ia menyadari bahwa Tuhan pasti akan memberikan jawaban yang terbaik pada akhirnya mengenai permohonanan yang diutarakannya.  Sekalipun ia diijinkan menerima jawaban yang lain dari apa yang diharapkan apa mulanya.

Renungkanlah puisi berikut ini;
“Aku minta kekuatan agar aku mendapat, la memberi kelemahan agar aku taat. Aku minta kesehatan agar aku mengerjakan yang lebih besar, la memberi anugerah agar aku mengerjakan yang lebih baik. Aku minta kekayaan agar aku bahagia. la memberi aku kekurangan agar aku bijaksana.

Aku minta kuasa agar aku dipuja sesama. la membuat aku lemah agar rendah hati dan bergantung kepada-Nya. Aku minta segala sesuatu agar aku menikmati kehidupan. la memberi aku kehidupan agar aku menikmati segala sesuatu. Aku tidak selalu memperoleh apa yang kuminta, tetapi doaku selalu terjawab” (sahabatsyurgawi.net)
Firman Tuhan berulang-ulang mengingatkan kita untuk selalu berdoa.
Efesus 6:18b – berdoa setiap waktu dalam Roh.  Dalam kalimat “berdoa setiap waktu” secara implicit mengandung makna; ketekunan, kesabaran, semangat dan gairah. 
Wanita tersebut menyadari ia tidak boleh putus harapan. Sehingga ketika jawaban yang didapatnya berlainan dengan harapannya tetapi ia yakin pasti ada sesuatu yang Tuhan tetap sediakan bagi kebaikkan hidupnya.  “… Benar Tuhan, tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”

St. Simeon Metaphrastis mengatakan: "Dia yang terbiasa untuk berdoa harus berjuang dengan segala ketekunan dan kecermatan, dengan segenap tenaga, perjuangan jiwa dan kerja keras tubuh, untuk tidak menjadi lesu dan menyerah kepada gangguan-gangguan di dalam pikirannya,… sementara pikirannya mengembara jauh entah dimana.  Namun hendaknya seseorang terlatih dalam kewaspadaan yang ketat, sehingga ketika pikirannya diserang oleh (banjir) hal-hal yang tidak berguna, ia tetap menguji dan menyaring semua hal itu, dan tetap teguh pada kerinduannya yang selalu untuk Allah….”   

Jadi, setiap waktu dan setiap saat, dimanapun kita berada kita harus luangkan waktu untuk dapat berjumpa dengan Tuhan melalui doa-doa kita. Dengan kata lain apapun situasinya kita harus tetap berdoa.  Dijawab dengan segera ataupun harus menunggu beberapa lama, kita harus tetap berdoa. Filipi 4:6 – doa dan permohonan dengan ucapan syukur

Mengapa? Karena sudah seharusnyalah kultur kita sebagai umatNya yang berbeda dengan orang-orang dunia.  Roma 12:12 – bertekun dalam doa, merujuk kepada konteks ayat 1 – jangan serupa dengan dunia ini…dst.  Begitu juga dalam Kolose 4:2 – bertekun dalam doa, merujuk kepada konteks 3:5, 12 menjadi manusia baru (pilihan Allah).  Sekalipun Allah Maha Kuasa dan Maha Tahu, Dia selalu ingin berkomunikasi dan berfellowship dengan kita. 

Selanjutnya dengan berdoa kita melatih “manusia rohani” kita.  Ada ruang spiritual di dalam otak kita (Brick Johnstone – Peneliti di Universitas Missouri, Liputan6.com,  21 April 2012).  Tuhan sudah merancang setiap individu memiliki sisi jasmani dan rohani.  Untuk memberi kekuatan pada jasmani kita kita memerlukan makanan dan nutrisi.  Dan untuk memberikan kekuatan pada sisi rohani, Firman Tuhan dan doalah yang kita butuhkan.
Karena doa melibatkan seluruh fungsi tubuh kita secara holistik, tubuh, roh dan pikiran.. I Kor. 14:14,15.  Yudas 20 – berdoa dalam Roh Kudus.

Dan akhirnya, doa juga menjadi sarana untuk mendukung saudara-saudara seiman yang memerlukan jamahan Tuhan.  Kembali kepada wanita Siro-Fenisia tersebut, ia menjadi sarana untuk anaknya yang memerlukan jamahan Kuasa Tuhan.  Selanjutnya kita mengetahui bersama bahwa wanita tersebut memperoleh kelepasan dan kesembuhan,

Bagaimanakah dengan kita semua, apakah kita sudah menjadi sarana dalam mendukung teman-teman yang sedang memerlukan pertolongan dari Tuhan?  Mari mulaikah berdoa saat ini.  Tuhan Memberkati kita semua.

Rabu, 13 Juni 2012

Sikap Optimis meniadakan sisi Kehendak Allah ???????


Sikap Optimis meniadakan sisi Kehendak Allah ???????
Daniel Susanto S.Th


“OPTIMIS”  Kata tersebut saat ini seringkali muncul dan digunakan sebagai lawan dari sifat pesimis.  Jika kita sering menghadiri seminar-seminar motivasi, seperti halnya dalam training perekrutan tenaga marketing (MLM, asuransi, properti, dll).  Para motivator akan menstimulus pikiran dan emosi kita dengan kata “optimis.”  “Agar kita berhasil harus optimis!”  “ Jika berhadapan dengan hambatan harus optimis!” “Sales Point belum tercapai tetap Optimis!”  “Ingin memiliki masa depan yang cemerlang berpikir dan bertindaklah dengan optimis!”  Dsb.  Kira-kira seperti itulah para motivator berbicara.

Bukan hanya para motivator di seminar saja yang menyarankan untuk bertindak dan berpikir secara optimis.  Para pengkhotbah di gereja pun selalu mengatakan kepada para jemaat agar memiliki sikap yang optimis.  Dengan alasan bahwa iman adalah sesuatu yang digambarkan dan bersifat optimis.  Jika ingin dijawab doanya harus memiliki “iman yang optimis,” jika ingin terlepas dari belenggu persoalan harus memiliki iman yang optimis. 

Tidak salah memang kita memiliki sikap yang optimis.  Namun kita juga harus bersikap kritis terhadap diri kita sendiri berhubungan dengan kata "optimis" tersebut.  Sikap optimis yang kita miliki harus difilter dengan Firman Allah sendiri tentunya.  Sebab jika tidak, justru kita terjebak dalam memaksakan keinginan kita daripada keinginan-Nya.

Firman Tuhan dalam  Yakobus 4:13-15 mengatakan demikian:
Yakobus 4:13-15
13  Sekarang bagi kamu, hai orang-orang yang berkata, "Hari ini atau besok, kami akan pergi ke kota anu; kemudian kami akan menetap di sana setahun lamanya dan akan berdagang serta memperoleh keuntungan," 14  padahal kamu tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada hari esok. Apakah arti hidupmu? Kamu sama seperti uap, kelihatan seketika saja lamanya, kemudian lenyap.  15  Seharusnya kamu berkata, "Insya Allah   إن شاء اللهkami akan hidup dan akan berbuat begini atau begitu."  
(terjemahan Kitab Suci Injil 2008 / i_SB2008) [Terjemahan Baru LAI menggunakan kalimat “jika Tuhan menghendakinya”]
13هَلُمَّ الآنَ أَيُّهَا الْقَائِلُونَ:«نَذْهَبُ الْيَوْمَ أَوْ غَدًا إِلَى هذِهِ الْمَدِينَةِ أَوْ تِلْكَ، وَهُنَاكَ نَصْرِفُ سَنَةً وَاحِدَةً وَنَتَّجِرُ وَنَرْبَحُ». 14أَنْتُمُ الَّذِينَ لاَ تَعْرِفُونَ أَمْرَ الْغَدِ! لأَنَّهُ مَا هِيَ حَيَاتُكُمْ؟ إِنَّهَا بُخَارٌ، يَظْهَرُ قَلِيلاً ثُمَّ يَضْمَحِلُّ. 15عِوَضَ أَنْ تَقُولُوا:«إِنْ شَاءَ الرَّبُّ وَعِشْنَا نَفْعَلُ هذَا أَوْ ذَاكَ»
(Arabic Bible, Copyright 1998-2005. P.O. Box 486, Dracut, MA 01826 USA / http://www.arabicbible.com/arabic-bible.html)

Yang menjadi perhatian saya adalah dalam Alkitab i_SB2008,  memakai kata “Insya Allah”  [ teks Yunani menggunakan kata θεληση = Theleesee].   Dimana pada umumnya kalangan Kristiani “alergi” dengan kata tersebut (kalau saya boleh katakan demikian).  Oleh sebab dalam kata tersebut terkesan mengandung sikap pesimis, kurang iman, kurang yakin dll.
Namun setelah merenungkan bagian dari Firman Tuhan tersebut, saya pribadi memperoleh sebuah pencerahan bahwa di dalam kata “Insya Allah” mengandung makna yang sangat dalam.  Kata tersebut mendeskripsikan sebuah penyerahan total akan kehendak Tuhan Sang Empunya Hidup dan Sumber Hidup yang telah menciptakan Alam Semesta, tempat di mana kita umat manusia melangsungkan kehidupannya.
Bukankah Tuhan Yesus ketika di dalam kemanusiaanNya, Ia berdoa juga mengatakan
"Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-(θελημα = Theleema) Mu!" Matius 26:42
dan dalam doa yang di ajarkan  oleh Tuhan Yesus, Ia mengajarkan kepada kita
“…, jadilah kehendak- (θελημα = Theleema) Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6:10

Sikap Optimis seperti apa yang harus kita miliki???
Optimis yang benar adalah sebuah sikap yang tetap memberikan porsi Kehendak dan Kedaulatan Allah di dalam setiap aspek hidup kita.  Baik itu mengenai cita-cita, rencana jangka pendek – panjang dari hidup kita, dsb. 
Tidak ada salahnya kita memiliki harapan dan angan-angan atau cita-cita untuk masa depan kita.  Saya 100 % setuju jika kita memiliki rencana-rencana untuk masa depan kita.  Sebab  memang masa depan harus kita rencanakan.  Tetapi jika sesuatu terjadi, ada interupsi Illahi dalam hidup kita tidak semestinya kita menjadi menyalahkan diri sendiri atau bahkan menjadi putus asa dan putus harapan.
Justru, dengan bersikap optimis kita menempatkan posisi kita di dalam ”ruang kerja”  Allah.  Kita tidak perlu kuatir jika usaha atau mengalami hambatan atau kesulitan-kesulitan terus datang di dalam kehidupan kita akan selalu ada pertolongan bagi kita dari tempat yang Maha Tinggi.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Roma 8:28

Sebaliknya setiap keberhasilan atau kesuksesan  yang kita peroleh, janganlah menjadikan kita takabur, tinggi hati dan bersikap arogan.  Sebab jika Tuhan tidak menghendakinya tentunya kita tidak akan dapat memperolehnya.
Akhirnya, bagi para pembaca sekalian saya berdoa Insya Allah hidup anda selalu dalam lindungan-Nya dan anda akan terus memperoleh berkat-berkat-Nya yang luar biasa.  Amin