Hi, guest ! welcome to Livebebetter!. | About Us | Contact | Register | Sign In

Rabu, 29 Oktober 2008

Berkorban Sebagai tindakan Iman

Berkorban Sebagai tindakan Iman
Oleh: Daniel Susanto S.Th

Ibr. 11 : 3, 6b
Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. (ay.3)…. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (ay. 6b)

Kata “Beriman” dan “Berkorban” tidak dapat dipisahkan. Sebab, tidak ada orang yang sungguh-sungguh beriman tanpa ia berkorban dan seseorang menjadi mau berkorban karena ia beriman.

Hari ini, kita akan belajar mengenai hal tsb, melalui Kitab Ibrani. Kitab Ibrani ditulis untuk menyatakan tentang keutamaan Kristus bagi mereka yang ingin mengembalikan Kekristenan kepada legalisme Yudais. Penulis kitab Ibrani mengingatkan kepada para “pendengarnya” ( jelaskan mengapa para pendengar ). Melalui pengorbanan para Patriakh dan Nabi Israel yang juga telah berkorban karena imannya.

Sepanjang sejarah “Keselamatan” atau “sejarah para tokoh iman,” tidak ada satupun dari mereka yang terluput dari “berkorban” karena iman mereka.
Korban yang mereka persembahkan adalah: Rasio – Intelektual, Waktu, Tenaga, Perasaaan, Materi – Kedudukan, Bahkan Nyawa mereka.

Namun pada malam hari ini kita hanya akan melihat satu dari bentuk pengorbanan karena iman tersebut; Pengorbanan Ratio – Intelektual.
Tetapi perlu digarisbawahi, saya tidak bermaksud membuat jemaat menjadi orang-orang yang irasional – anti intelektual. Alkitab mengatakan kita harus mengasihi Allah dengan segenap akal budi. Dan di dalam mewujudnyatakan Keluarga Unggul, seperti Visi yang telah Tuhan berikan kepada Pastor. Salah satu hal yang terkandung didalamnya adalah kita harus menjadi cerdas, khususnya cerdas mengenai Firman Tuhan.

Alasan saya mengapa mengajak kita merenungkan tentang mengorbankan rasio kita adalah karena saya merasa jika rasio kita, telah kita taklukkan di dalam kebesaran Tuhan, maka ketika suatu saat kita dituntut untuk mengorbankan hal-hal yang lain; waktu, tenaga-perasaan, kedudukan bahkan nyawa kita, tentunya kita akan selalu siap memberikannya bagi kemuliaan Tuhan.

Peter Kreeft & Ronald K. Tacelli mengatakan:
Oleh karena Allah menciptakan Keberadaan kita, maka kita berhutang kepada Allah untuk segala sesuatu. Tidak ada satupun yang menjadi milik kita – baik waktu, uang ataupun rasio kita.

Korban : Rasio – Intelektual (Ibr. 11:3, 6)
Dalam Ilmu Biologi ada dua aliran ; abiogenesis dan biogenesis. aliran abiogenesis mengembangkan pemikiran tentang “Generatione Spontane” mereka mengatakan bahwa mahluk hidup ini terjadi dengan sendirinya........dari aliran biogenesis, kita mendapat istilah “Omne Vivum Ex Vivo, Omne Ovum Ex Vivo.” (mahluk hidup berasal dari mahluk hidup lain). Generasi berikut dari aliran abiogenesis inilah kemudian mengembangkan sebuah teori evolusi.

Bagi sebagian ilmuwan juga mengatakan tentang
“kekekalan zat” dan dalam sebuah zat terdapat energi yang kekal? Lalu bagaimana dengan keadaan saat ini, semua belahan dunia mengalami krisis energi. Oleh karena itu kita tidak ingin menyebut Allah kita sebagai suatu zat. Sebab zat bersifat tidak kekal. Tapi Allah adalah Roh yang ber-Pribadi yang hidup dan memberi hidup. Itulah Kesaksian dari Firman Allah (Alkitab).

Tadi sempat disinggung; Ketika kita dapat menyerahkan rasio kita sebagi korban kepada Allah, maka kita pun dapat mempersembahkan hal selanjutnya, seperti yang para tokoh iman lakukan:

Waktu (Ibr. 11: 5-7)
Henokh, seluruh waktu hidupnya bagi Tuhan
Nuh, waktunya dipersiapkan utk membangun
Bahtera
Abraham, menantikan janji keturunan dgn waktu
yang sangat lama


Tenaga – Perasaan (Ibr. 11:7 - 11)
Nuh, diejek oleh orang-orang yang hidup dizamannya
Sarah dan Abraham, sarah diejek oleh Hagar, Abraham diuji ketika Ishak harus dikorbankan
Ayub, diejek oleh teman-temannya
Musa, diejek oleh bangsanya
Bahkan Tuhan Yesus diejek dan ditinggalkan muridNya ketika peristiwa salib

Materi – Kedudukan (Ibr. 11: 24 – 27)
Musa, meninggalkan Mahkota Mesir demi bangsanya
Tuhan Yesus, menjelma manusia


Bahkan, Nyawa (Ibr. 11:32 – 40) ….

Aplikasi.

Jika saat ini, di antara kita ada yang sedang diperhadapkan dengan sebuah masalah, dan menurut pemahaman kita, tidak masuk akal. Serahkanlah segala pemikiran dan rasio kita kepada Tuhan Yesus.

Apapun masalah saudara, barangkali ada yang menantikan janji Allah dan sampai saat ini belum tergenapi. Pikiran saudara mulai menganggu dan iman saudara mulai bimbang… datanglah kepada Tuhan dengan menyerahkan setiap yang anda pikirkan kepada-Nya.

Mungkin ada diantara kita juga, ada yang telah melakukan hal yang terbaik untuk, keluarga, dan orang lain. Namun anda masih dituntut lebih banyak lagi. Sehingga perasaan anda terluka. Datanglah kepada Tuhan saat ini.

Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini:

Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. (ay.13)

Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. (ay.39)
Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan. (ay. 40)

Apakah janji tersebut: Tanah Perjanjian Sorgawi ! Mereka belum melihatnya. Bahkan dalam penantian janji itu, ajal mendahului mereka. Namun iman mereka tidak gugur.

Penutup.
Oleh karena itu, sekali lagi saya mengajak kita semua untuk datang kepada dia, bawalah korban kita saat ini; rasio, waktu, perasaan dll di dalam doa yang kita naikkan Kepada Tuhan sebagai perwujudan iman kita kepada-Nya. Amin…..

Dari (Stadion) Olah Raga Hingga (Gedung DPR/ D) Panggung Politik, Adakah Sportifitas?

Dari (Stadion) Olah Raga Hingga (Gedung DPR/ D) Panggung Politik, Adakah Sportifitas?
Oleh: Daniel Susanto S.Th

Olah Raga, khususnya Sepak Bola sangatlah di minati oleh semua lapisan masyarakat; tua – muda, laki-laki – perempuan, golongan menengah ke atas – golongan menengah ke bawah.

Ketika sebuah pertandingan digelar, maka para supporter dari segala penjuru datang berduyun-duyun untuk memberi dukungan kepada timnya. Setiap orang atau kelompok pasti memiliki idolanya masing-masing. Dengan berbagai macam dan model aksesoris yang dikenakannya, mereka seakan tidak kenal lelah berteriak, berjingkrak ketika tim yang didukungnya sedang berlaga di tengah lapangan.

Patut disayangkan dari sikap para supporter Indonesia yang sarat dengan kebiasaan anarkisnya, sebuah sikap yang dipicu akibat ketidak-sportifan, baik supporter itu sendiri ataupun para pemain dan juga wasit jika salah satu tim yang didukungnya kalah. .

Hal serupa bahkan juga terjadi di dalam kehidupan politik Indonesia. Politik Indonesia jika diperhatikan mirip dengan dunia olah raga kita. Ketika pemilihan kepala Daerah saja misalnya. Kampanye digelar dan rombongan para pendukung dengan berbagai aksesoris serta kostum-kostum mereka, meneriakkan yel-yel kepada Sang Calon Pemimpin Daerahnya. Dari kubu oposisipun melakukan hal yang serupa, mereka tidak mau kalah seru dengan lawannya.

Tibalah, waktu pemungutan yang segera disusul penghitungan suara dan menyatakan hasil dari pemilihan tersebut. Apa yang terjadi? Ternyata keributan terjadi. Orang-orang yang telah berkorban, keringat, teriakan yel-yel, waktu untuk kampanye, bahkan uang barangkali, terkejut melihat dan mendengar hasil dari quick count. Mereka tidak terima dengan hasil pemilihan tersebut. Prediksipun mulai mereka cari, apakah ada kecurangan yang dilakukan oleh KPUD selaku wasit, atau sebab lain. Tidak ada seorangpun yang tahu. Tapi kenyataannya Calon yang didukung telah kalah!

Mirip bukan antara Sepak Bola dengan Politik kita?! Sampai kapankah keadaan dan sikap kurang sportif ini bergaul erat dengan masyarakat dalam dunia olah raga dan politik kita?

Adalah menjadi PR kita bersama sebagai warga negara yang diam di negeri ini, baik dalam doa dan usaha menciptakan alam politik yang sehat dan sportif. Sehingga, alam politik dan juga olah raga kita menjadi semakin dapat mempertebal sikap sportifitas yang dewasa dalam kehidupannya.


Martin Luther:
ORA EST LABORA = Sembahyang / Berdoa adalah Berkerja / Berusaha


Celakalah negeri yang rajanya muda belia, dan para pembesarnya semalam suntuk berpesta pora.
Mujurlah negeri yang rajanya berwibawa, yang pembesarnya makan pada waktunya, tak suka mabuk dan pandai menahan dirinya.

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.



Selamat menyambut Pesta Demokrasi 2009!!!!!!!!!