Hi, guest ! welcome to Livebebetter!. | About Us | Contact | Register | Sign In

Selasa, 10 April 2012

Kisah Mutiara yang terlepas dari untaiannya

Kisah Mutiara yang terlepas dari untaiannya | oleh: Daniel Susanto S.Th

Adalah seorang pengrajin mutiara, orang tersebut memperoleh tugas dari Seorang Tuan, Pemilik butiran-butiran mutiara untuk membuat sebuah perhiasaan mutiara yang sangat indah. Oleh karena mutiara-mutiara yang dimilik-Nya banyak sekali dan tersebar di beberapa ruang serta setiap tempat-tempat yang ada dalam Rumah Tuannya tersebut.

Pengrajin tersebut sangat senang mendapatkan kepercaayan yang luar biasa tersebut dari Sang Pemilik mutiara. Sehingga setiap hari, ia pun terus berusaha untuk nengumpulkan butiran-butiran mutiara. Orang tersebut dengan teliti dan penuh harapan berusaha membuat untaian sebuah kalung yang sangat indah dari mutiara yang dikumpulkannya tersebut.

Mutiara-mutiara yang hendak ia untai tersebut berasal dari bermacam-macam jenis butiran pasir pembentuknya dan usianya. Ada yang cukup lama telah terbentuk menjadi sebuah mutiara dan ada pula yang baru saja terbentuk menjadi sebuah mutiara.

Suatu ketika, sewaktu ia sedang mengerjakan untaiannya tersebut ada dua buah mutiara yang terlepas dari padanya dan jatuh terbentur kepada lantai dan beberapa benda yang ada di sekitar studio, dimana sang pengrajin itu bekerja. Pengrajin tersebut menjadi kecewa dan sedih, karena pikirnya mutiara yang terlepas itu memiliki goresan-goresan pada dirinya. Bahkan ada bagian yang tercuil menjadi dua bagian yang tidak rata; besar dan kecil.

Namun tanpa disadari oleh si pengrajin yang sedang bersedih itu, Tuannya Sang Pemilik butiran-butiran Mutiara tersebut sedang memperhatikan kedua buah mutiara yang telah terlepas dan pecah itu. Tuannya segera mengambil pecahan kedua butiara tersebut dan berkata dalam hatinya; “Sesungguhnya butiran mutiara yang terlepas ini tidak rusak dan masih dapat terpakai. Aku akan memberikan mereka kepada pengrajin yang lain.” Akhirnya, kedua mutiara yang terlepas itu pun menjadi sebuah perhiasan yang juga tidak kalah indahnya ditangan pengrajin yang lain. Sekalipun terlepas dari untaiannya mereka berdua tetap dapat memberikan rasa takjub kepada orang-orang yang di sekitar mereka. Sang Pemilik Mutiara tahu apa yang terbaik bagi kedua mutiara tersebut. Sekalipun pengrajin pertama sangat kecewa atas terlepasnya kedua mutiara tersebut. Tetapi di tangan pengrajin yang lain Tuannya mengupayakan mereka tetap menjadi sebuah perhiasan yang sangat indah.

Jumat, 14 Mei 2010

Buku bagus yang akan membuka cakrawala berpikir kita tentang permasalahan Palestina-Israel dengan sangat objektif

Identitas Buku
Judul : Semata-mata Keadilan
Subjudul : Visi Perdamaian Seorang Kristen Palestina
Penulis : Naim Stifan Ateek
Ukuran : 14.5 x 21 cm
Tebal : 276 (xvi + 260) hlm
ISBN : 978-979-687-624-2
Kode buku : 10.06.02.31.00

Isi Buku
1. DAFTAR ISI:
Pengantar
Ucapan Terima Kasih
Pendahuluan: Berbagai Dimensi Konflik
1. Perjumpaan
2. Sebuah Arena Perselisihan: Latar Belakang Politis-Historis
3. Menjadi Orang Palestina dan Orang Kristen di Israel
4. Alkitab Dan Pembebasan: Sebuah Perspektif Orang Palestina
5. Jeritan Orang Palestina Untuk Keadilan Dan Belas Kasih
6. Berbahagialah Mereka Yang Membawa Damai: Nubuatan Dan Upaya Pendamaian Yang Sangat Penting Dari Gereja
7. Sebuah Mimpi Tentang Damai: Visi Seorang Palestina
8. Keadilan, Dan Hanya Keadilan: Sebuah Permohonan Terakhir
Catatan Akhir
Bibliografi
Tentang Penulis

2. Gambaran isi buku:
Buku ini berisi renungan dan informasi mengenai keberadaan orang-orang Kristen Palestina yang sering kali diabaikan dunia dalam konflik Arab-Israel. Ia memprotes sikap banyak orang Kristen—terutama kaum fundamentalis—di Barat yang membenarkan keberadaan dan kebijakan Israel seakan-akan hal itu sesuai dengan kehendak Allah. Namun ia juga bersikap pragmatis sehubungan dengan masalah Arab-Israel, di mana ia menganjurkan pembentukan negara Palestina yang berdampingan dengan negara Israel menurut terang Alkitabiah.

3. Teks Backcover:
“Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar, supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.”
Ulangan 16:20

Salah satu konflik paling tragis pada abad ke-20, dan sayangnya masih terus berlangsung, adalah pertikaian antara Israel dan Palestina. Konflik ini telah menarik perhatian dunia karena dimensinya yang kompleks—politik, keaga¬maan, historis, dan emosional—dan penuh dengan berbagai sentimen yang menolak tun¬duk pada nalar dan logika.
Dalam buku ini, Naim Stifan Ateek menjelaskan hakikat persoalan rakyat Palestina dan berusaha menguraikan masalah-masalah krusial yang terjadi di sana. Ia merupakan orang pertama yang menyam¬pai¬kan ide tentang teologi pembebasan Palestina dan meletakkan dasar bagi suatu teologi yang ditujukan bagi konflik Palestina.

Melalui buku ini, penulis mengajak kita untuk menyelami konflik tersebut dalam berbagai dimensinya. Kita juga dapat belajar untuk hidup damai dan belajar bertindak adil kepada sesama saudara—perempuan dan laki-laki—anak-anak dari Allah yang Maha Esa, yang menciptakan dan memilih kita semua.

Dr. Naim Stifan Ateek adalah pendiri dan ketua Sabeel Ecumenical Liberation Theology Center, sebuah pusat teologi ekumenis di Yerusalem yang didirikan untuk berjuang demi kemerdekaan Palestina. Ia menyadari diri sebagai seorang Palestina, Kristen, rohaniwan Anglikan, dan seorang waga dari Negara Israel. Buku lain tentang konflik Palestina yang ditulisanya adalah A Palestinian Christian Cry for Reconcilliation.

4. Keunggulan Buku
Memaparkan pandangan langka dari sudut pandang orang Kristen Palestina dalam konflik Palestina-Israel, sesuatu yang jarang ditemukan dalam literatur Indonesia.




5. Tentang Penulis
Doktor Naim Stifan Ateek adalah pendiri dan ketua Sabeel Ecumenical Liberation Theology Center, sebuah pusat teologi ekumenis di Yerusalem yang didirikan untuk berjuang demi kemerdekaan Palestina.
Ia dilahirkan di Beisan (Beth Shean) dan baru berusia 11 tahun ketika kaum Zionis menduduki kotanya pada tanggal 12 Mei 1948. Dua hari kemudian Negara Israel diproklamasikan dan empat belas hari setelah peristiwa itu, Beisan harus dikosongkan. Ia dan keluarganya dipindahkan secara paksa ke Nazaret, yang kemudian juga dikuasai tentara Yahudi pada tanggal 19 Juli 1948.
Pada tahun 1959, ia meninggalkan Nazaret menuju Amerika Serikat untuk mengambil gelar sarjana dan menjadi seorang pendeta. Enam tahun kemudian ia diwisuda, lalu kembali ke Nazaret untuk ditahbiskan dan memulai pelayanan di tengah bangsanya. Ia mengajar di Nazareth Baptist dan banyak memberi kuliah baik di dalam maupun di luar negeri.
Ia menyadari diri sebagai seorang Arab, seorang Palestina, seorang Kristen, rohaniwan Anglikan, dan seorang warga dari Negara Israel. Ia merupakan orang pertama yang menyampaikan ide tentang teologi pembebasan Palestina dalam bukunya, Semata-mata Keadilan. Buku ini meletakkan dasar bagi suatu teologi yang ditujukan bagi konflik Palestina serta mengungkap berbagai dimensi secara politis, biblis, dan teologis. Buku lain tentang konflik Palestina yang ditulisnya adalah A Palestinian Christian Cry for Reconciliation.